Makin banyak pedagang menerima pembayaran digital, makin kreatif pula para penipu. Mereka tidak lagi mengincar pembeli saja, melainkan langsung menyasar pemilik usaha yang sibuk melayani dan lengah memeriksa. Berikut modus yang paling sering terjadi dan cara menghadapinya.
Modus pertama adalah QRIS palsu. Pelaku menempelkan stiker kode QR miliknya tepat di atas kode QR asli milik pedagang. Pembeli memindai dengan niat baik, uang masuk ke rekening pelaku, dan pedagang baru sadar saat memeriksa mutasi di akhir hari. Cegah dengan memasang kode QR di bingkai tertutup atau di balik kaca, dan periksa kondisi fisiknya setiap pagi sebelum buka.
Modus kedua adalah bukti transfer palsu. Pembeli menunjukkan layar ponsel berisi gambar struk transfer yang terlihat meyakinkan, padahal dana tidak pernah masuk. Gambar semacam ini mudah dibuat dengan aplikasi edit. Jangan pernah menyerahkan barang hanya berdasarkan gambar di layar pembeli. Selalu cocokkan dengan notifikasi atau mutasi di rekeningmu sendiri.
Modus ketiga adalah phising berkedok verifikasi. Pelaku mengirim pesan lewat chat atau telepon mengaku dari bank atau penyedia QRIS, meminta pedagang mengklik tautan untuk "verifikasi akun" atau "aktivasi fitur baru". Tautan itu mengarah ke situs tiruan yang mencuri nama pengguna dan kata sandi. Ingat prinsipnya: pihak resmi tidak pernah meminta kata sandi atau kode OTP lewat chat maupun telepon.
Modus keempat adalah telepon mengaku kurir atau pelanggan yang meminta kode verifikasi. Dengan dalih salah kirim paket atau salah transfer, pelaku meminta korban membacakan kode OTP yang masuk lewat SMS. Kode OTP adalah kunci akunmu; siapa pun yang memintanya, dengan alasan apa pun, hampir pasti penipu.
Agar usahamu aman, terapkan empat kebiasaan. Pertama, verifikasi setiap pembayaran di mutasi atau notifikasi resmi sebelum menyerahkan barang, terutama untuk nominal besar. Kedua, simpan nomor layanan resmi bank atau penyediamu, dan hubungi nomor itu kalau ada yang mencurigakan, jangan nomor yang diberikan penelepon. Ketiga, aktifkan kunci layar dan PIN di ponsel usaha, serta jangan menyimpan kata sandi di catatan yang mudah dibaca orang. Keempat, edukasi karyawan atau anggota keluarga yang membantu di toko tentang modus-modus ini.
Kalau sudah menjadi korban, segera blokir akses yang disusupi, simpan semua bukti percakapan dan bukti transfer, lalu lapor ke bank dan kepolisian. Kecepatan melapor memperbesar peluang dana tertolong.
Terakhir, bangun budaya saling mengingatkan di lingkungan usahamu. Bagikan informasi modus penipuan terbaru ke grup pedagang atau komunitas pasar tempatmu berjualan. Penipu biasanya beroperasi di satu kawasan dalam waktu singkat sebelum pindah; kalau satu pedagang waspada dan menyebarkannya, seluruh kawasan ikut terlindungi. Keamanan digital bukan urusan perorangan, melainkan urusan bersama.
Penipu mengandalkan satu hal: korban yang terburu-buru. Pedagang yang tenang dan selalu memverifikasi adalah target yang paling sulit ditipu.